Kamis, 29 Maret 2018


   Konstruksi sosial atas realitas yang  berlangsung di media mempunyai 
kecendrungan bias realitas


Menurut saya, Konstruksi sosial atas realitas yang  berlangsung di media mempunyai 





kecendrungan bias realitas dikarenakan media mengkonstruksikan pesan yang disampaikan kepada khalayak sesuai dengan pandangan,ideology serta aturan yang ada dalam media tersebut.




Media yang mampu mempengaruhi pemikiran setiap orang yang melihatnya ,  cenderung akan menelan mentah-mentah setiap informasi yang diperolehnya dari sumber media. Sehingga konstruksi sosial yang dilakukan oleh media tersebut menjadi senjata ampuh bagi mereka untuk mempengaruhi pandangan masyarakat. Maka dengan hal itu memunculkan bias realitas di masyarakat setelah  menerima pesan dari media  dan terjadi perbedaan yang pada masyarakat tersebut seperti perubahan perilaku, sikap, atau bertambahnya wawasan pengetahuan.
Dalam konteks ini, maka konsep media secara aktif menjadi relevan dalam kaitannya dengan konstruksi realitas sosial. Hal ini juga sesuai dengan paradigma konstruksionis yang digunakan, yang memandang media dilihat bukan sebagai saluran yang bebas atau netral, melainkan sebagai subyek yang mengkonstruksi realitas, dimana para pekerja yang terlibat dalam produksi pesan juga menyertakan pandangan, bias dan keberpihakannya. Karenanya, sangat potensial terjadi peristiwa yang sama dikonstruksi secara berbeda. Wartawan bisa mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda ketika melihat suatu peristiwa, dan itu dapat dilihat dari bagaimana mereka mengkonstruksi peristiwa yang diwujudkan dalam teks berita. Berita dalam pandangan konstruksi sosial, bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. Disini realitas bukan dioper begitu saja sebagai berita. Ia adalah produk interaksi antara wartawan dengan fakta.
Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Setiap yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas itu dengan konstruksinya masing-masing. Pada kenyataannya konstruksi sosial atas realitas berlangsung lamban, membutuhkan waktu lama, bersifat spasial, dan berlangsung secara hierarkis-vertikal, dimana konstruksi sosial berlangsung dari pimpinan kepada bawahannya, pimpinan kepada massanya, guru kepada muridnya, orang tua kepada anaknya, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari penyampaian informasi oleh media kepada khalayak yang sesuai pandangan, ideology serta aturan media tersebut secara terus-menerus akan mempengaruhi sikap dan pandangan masyarakat.
Contoh:
Realitas iklan televisi membentuk pengetahuan pemirsa tentang citra sebuah produk. Keputusan konsumen memilih atau tidak terhadap suatu produk, semata-semata bukan karena spesifik yang telah terjadi, namun sebenarnya keputusan itu terjadi karena peran konstruksi sosial media massa yang diskenario oleh pencipta iklan televisi.
Seperti iklan televisi susu Dancow, edisi ?aku dan kau suka dancow?. Awalnya ide iklan tersebut diangkat dari dialog seorang ibu dengan anaknya (sebuah realitas sosial lama). Namun begitu dialog itu terjadi dalam media televisi, telah terjadi perubahan citra, bahwa Dancow bukan lagi susu sembarangan. Dancow adalah susu yang luar biasa, apalagi pada akhir dialog, dimana setelah si anak minum segelas Dancow, dia memberitahu ibunya kalau tangannya telah menyentuh telinga. Maknanya dia telah cepat besar hanya dengan meminum segelas Dancow saja, kemudian ada kata-kata yang diperdengarkan, ?aku dan kau suka Dancow?. Realitas sosial yang menunjukkan anak itu cepat besar karena minum susu Dancow adalah sebuah realitas media yang sengaja dikonstruksi oleh pembuat naskah iklan dan pemesan iklan melalui penciptaan realitas baru, yaitu susu Dancow cara cepat membesarkan anak, karena hanya susu Dancow yang mengandung nutrisi, vitamin, kalori, dan zat-zat lengkap lainnya yang paling sempurna untuk kebutuhan pertumbuhan anak-anak. Iklan Dancow tersebut mengkontruksi sebuah realitas sosial bahwa dengan minum susu Dancow, anak akan cepat tumbuh besar. Namun, pada kenyataannya tidak semua realitas sosial dapat dikonstruksi oleh iklan televisi. Terdapat pula keputusan pemirsa yang justru diskenario oleh faktor lain yang berasal dari luar pengaruh konstruksi iklan dan media massa, seperti teman, orang tua, salesman, kebutuhan yang mendesak, kebiasaan dan fanatisme, tidak ada pilihan dan lain sebagainya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar