Konstruksi sosial
atas realitas yang berlangsung di media mempunyai
kecendrungan bias realitas
Menurut saya, Konstruksi sosial atas realitas yang berlangsung di media mempunyai
kecendrungan bias realitas dikarenakan media mengkonstruksikan pesan yang disampaikan kepada khalayak sesuai dengan pandangan,ideology serta aturan yang ada dalam media tersebut.
Media yang mampu
mempengaruhi pemikiran setiap orang yang melihatnya , cenderung akan menelan mentah-mentah setiap
informasi yang diperolehnya dari sumber media. Sehingga konstruksi sosial yang
dilakukan oleh media tersebut menjadi senjata ampuh bagi mereka untuk
mempengaruhi pandangan masyarakat. Maka dengan hal itu memunculkan bias
realitas di masyarakat setelah menerima
pesan dari media dan terjadi perbedaan
yang pada masyarakat tersebut seperti perubahan perilaku, sikap, atau
bertambahnya wawasan pengetahuan.
Dalam konteks ini, maka
konsep media secara aktif menjadi relevan dalam kaitannya dengan konstruksi
realitas sosial. Hal ini juga sesuai dengan paradigma konstruksionis yang
digunakan, yang memandang media dilihat bukan sebagai saluran yang bebas atau
netral, melainkan sebagai subyek yang mengkonstruksi realitas, dimana para
pekerja yang terlibat dalam produksi pesan juga menyertakan pandangan, bias dan
keberpihakannya. Karenanya, sangat potensial terjadi peristiwa yang sama
dikonstruksi secara berbeda. Wartawan bisa mempunyai pandangan dan konsepsi
yang berbeda ketika melihat suatu peristiwa, dan itu dapat dilihat dari
bagaimana mereka mengkonstruksi peristiwa yang diwujudkan dalam teks berita.
Berita dalam pandangan konstruksi sosial, bukan merupakan peristiwa atau fakta
dalam arti yang riil. Disini realitas bukan dioper begitu saja sebagai berita.
Ia adalah produk interaksi antara wartawan dengan fakta.
Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas
suatu realitas. Setiap yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan
tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan
realitas itu dengan konstruksinya masing-masing. Pada
kenyataannya konstruksi sosial atas realitas berlangsung lamban, membutuhkan
waktu lama, bersifat spasial, dan berlangsung secara hierarkis-vertikal, dimana
konstruksi sosial berlangsung dari pimpinan kepada bawahannya, pimpinan kepada
massanya, guru kepada muridnya, orang tua kepada anaknya, dan sebagainya. Hal
ini dapat dilihat dari penyampaian informasi oleh media kepada khalayak yang
sesuai pandangan, ideology serta aturan media tersebut secara terus-menerus
akan mempengaruhi sikap dan pandangan masyarakat.
Contoh:
Realitas
iklan televisi membentuk pengetahuan pemirsa tentang citra sebuah produk.
Keputusan konsumen memilih atau tidak terhadap suatu produk, semata-semata
bukan karena spesifik yang telah terjadi, namun sebenarnya keputusan itu
terjadi karena peran konstruksi sosial media massa yang diskenario oleh
pencipta iklan televisi.
Seperti
iklan televisi susu Dancow, edisi ?aku dan kau suka dancow?. Awalnya ide iklan
tersebut diangkat dari dialog seorang ibu dengan anaknya (sebuah realitas
sosial lama). Namun begitu dialog itu terjadi dalam media televisi, telah
terjadi perubahan citra, bahwa Dancow bukan lagi susu sembarangan. Dancow
adalah susu yang luar biasa, apalagi pada akhir dialog, dimana setelah si anak
minum segelas Dancow, dia memberitahu ibunya kalau tangannya telah menyentuh
telinga. Maknanya dia telah cepat besar hanya dengan meminum segelas Dancow
saja, kemudian ada kata-kata yang diperdengarkan, ?aku dan kau suka Dancow?.
Realitas sosial yang menunjukkan anak itu cepat besar karena minum susu Dancow
adalah sebuah realitas media yang sengaja dikonstruksi oleh pembuat naskah
iklan dan pemesan iklan melalui penciptaan realitas baru, yaitu susu Dancow
cara cepat membesarkan anak, karena hanya susu Dancow yang mengandung nutrisi,
vitamin, kalori, dan zat-zat lengkap lainnya yang paling sempurna untuk
kebutuhan pertumbuhan anak-anak. Iklan Dancow tersebut mengkontruksi sebuah
realitas sosial bahwa dengan minum susu Dancow, anak akan cepat tumbuh besar.
Namun, pada kenyataannya tidak semua realitas sosial dapat dikonstruksi oleh
iklan televisi. Terdapat pula keputusan pemirsa yang justru diskenario oleh
faktor lain yang berasal dari luar pengaruh konstruksi iklan dan media massa,
seperti teman, orang tua, salesman, kebutuhan yang mendesak, kebiasaan dan
fanatisme, tidak ada pilihan dan lain sebagainya.