Rabu, 04 April 2018

Uniknya Tradisi Hoyak Tabuik di Pariaman


Sumatera Barat merupakan salah satu dari provinsi di Indonesia yang sangat kaya akan budaya.
Setiap daerah di Sumatera Barat memiliki tradisi yang beragam dan sangat unik. Salah satunya adalah Hoyak Tabuik yang berasal dari Pariaman.
Hoyak Tabuik adalah perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharam) yaitu mengenang  kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad Saw.  Yaitu, Saidina Hassan bin Ali yang wafat diracun serta Saidina Hussein bin Ali yang gugur dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Iraq tanggal 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi).

Ketika perayaan Hoyak Tabuik setiap ruas jalan di pusat Kota Pariaman akan dipadati oleh lautan manusia yang datang dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri. 
Seiring dimulainya prosesi arak-arakan tabuik ini, sebuah fenomena kemeriahan lain akan kita saksikan. Dalam riuhnya tabuhan gandang tasa yang mengiringi arak-arakan, kedua patung tabuik akan diguncangkan oleh puluhan orang yang bertugas di masing-masing rombongan.
Kemudian dengan sekuat tenaga, para pengusung akan memutar patung tabuik yang akan disambut teriakan lantang berulang-ulang dari anggota rombongan, "Angkat Hussein! Angkat Hussein! Angkat Hussein!". Teriakan itu menjadi pertanda dimulainya salah satu momentum yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap penonton prosesi hoyak tabuik.
Puncak Pesta Tabuik adalah bertemunya Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua tabuik itu dihoyak dengan ditingkahi alat musik tambur dan gendang tasa. Petang hari kedua tabuik ini digotong menuju Pantai Gondoriah, dan menjelang matahari terbenam, kedua tabuik dibuang ke laut. Dikisahkan, setelah tabuik dibuang ke laut, saat itulah kendaraan bouraq membawa segala arak-arakan terbang ke surga.
Dalam bahasa Minangkabau, hoyak secara sederhana dapat diartikan dengan mengguncangkan atau menggoyangkan. Dalam konteks perayaan Festival Tabuik, hoyak dapat diartikan dengan mengguncangkan patung tabuik yang berjumlah sepasang. Patung setinggi belasan meter ini berbentuk makhluk Buraq yang dipercaya mengusung peti kayu berisi jenazah Hussein bin Ali RA. Kedua patung tersebut dibuat oleh dua kelompok masyarakat yang berbeda, yaitu masyarakat Pasa yang tinggal di kawasan sekitar Pasar Pariaman dan Subarang, daerah seberang Sungai Pariaman, yang biasa disebut Kampung Jawa.
Tabuik pun memliki arti yaitu keranda atau peti mati. Namun ada yang mengatakan bahwa arti dari tabuik tersebut adalah peti pusaka peninggalan Nabi Musa yang digunakan untuk menyimpan naskah perjanjian Bani Israel dengan Allah.
Pesta Tabuik ini, dulu dikenasebagai ritual tolak bala, yang diselenggarakan setiap tanggal 1-10 Muharram. Tabuik dilukiskan sebagai  “Bouraq”, binatang berbentuk kuda bersayap, berbadan tegap, berkepala manusia seperti wanita cantik, yang dipercaya telah membawa arwah Hasan dan Husein ke surga. Dengan dua peti jenazah yang berumbul-umbul seperti payung mahkota, tabuik tersebut memiliki tinggi antara 10-15 meter.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar