Biji
Mangga Bisa Atasi Keputihan?
Sekelompok mahasiswi Universitas Diponegoro melakukan penelitian mengenai
manfaat biji buah mangga dalam mengatasi keputihan. Mereka terdiri dari empat orang yakni Virantika Wiji Pangestu jurusan
Teknik Kimia, Mega Andira Putri jurusan Teknik Mesin, Ardelia Dewanti jurusan
Biologi dan Ferisa Lestari Nugrahayu jurusan Biologi.
Mega Andira putri saat ditemui di kampus Teknik Mesin Undip,
Senin (5/6) mengatakan bahwa riset ini mereka lakukan karena sebagian besar
kaum wanita kurang memperhatikan kebersihan daerah kewanitaan.
Mega juga menjelaskan
bahwa keputihan terdiri dari dua jenis yaitu patologis (tidak normal) dan
fisiologis (normal). Keputihan patologis atau keputihan tidak
normal sudah termasuk ke dalam jenis penyakit, sehingga dapat menyebabkan
berbagai efek dan hal ini akan sangat mengganggu bagi kesehatan wanita pada
umumnya dan khususnya kesehatan daerah kewanitaan.
Bahan
yang telah banyak digunakan dalam mengatasi keputihan adalah sirih, dan banyak produk-produk pembersih daerah
kewanitaan berbahan utama sirih. Namun sebenarnya jika menggunakan sirih secara
berkesinambungan pada daerah kewanitaan dapat menyebabkan rahim menjadi kering.
Oleh karena itu sekelompok mahasiswa ini saling berdiskusi untuk menemukan
bahan alami selain sirih dalam mengatasi keputihan. Mereka telah melakukan
percobaan terhadap bahan-bahan alami, melakukan studi pustaka serta mencari
referensi. Akhirnya mereka menemukan biji mangga sebagai bahan dalam mengatasi
keputihan pada daerah kewanitaan.
“Masyarakat belum banyak mengetahui khasiat biji mangga ini. Banyak warga yang menganggapnya
sebagai limbah. Maka saya dan tiga teman saya memanfaatkan bahan ini karena
mudah didapat dan tidak memerlukan biaya yang besar” jelas Mega.
Mega pun menjelaskan tentang bagaimana proses mereka
melakukan penelitian terhadap biji mangga ini. “Disini kami menggunakan biji
mangga yang berasal dari jenis harum manis (Mangifera
indica). Dalam biji mangga jenis ini memiliki
kandungan flavonoid yang bisa
mencegah tumbuhnya jamur. Kami kombinasikan biji
buah mangga tersebut dengan akar. Sebelumnya bagian tertentu pelok
dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi bubuk. Setelah melalui proses ekstraksi, disaring dan
menjalani evaporasi. Kemudian akar
sambiloto dipotong-potong dan dikeringkan. Selanjutnya juga dihaluskan menjadi
bubuk. Proses
berikutnya adalah ekstraksi dan evaporasi. Setelah menjadi pasta, dua
bahan ini dicairkan dengan aquades (air murni).
Sampai sekarang, penelitian masih terus dilakukan dan telah
memasuki tahap uji invitro. Mega mengatakan progres risetnya sudah sampai 70
persen. “Saat ini kami sedang menguji pada isolat agar mengetahui efektivitas
dari ekstrak akar sambiloto dan biji buah mangga,” ujarnya.
Penelitian riset tersebut dilakukan dalam
rangka Progam Kreativitas Mahasiswa tahun 2016 lalu selaku Sri
Pujianto sebagai dosen pembimbing.
Mega berharap agar riset yang telah ia lakukan dengan tiga
orang temannya tersebut dapat menghasilkan suatu produk sehingga masyarakat
dapat mengkonsumsi produk mereka. Produk tersebut juga diharapkan dapat
mengurangi jumlah wanita yang mengalami keputihan patologis dan mencegah
tumbuhnya jamur pada daerah kewanitaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar