Mendambakan Pilpres Damai 2019
Pemilihan presiden
2019 masih cukup lama, akan
tetapi hingar
pilpres gaungnya sudah cukup kencang didengar. Hal ini terlihat dari munculnya
kelompok pendukung bakal calon presiden dan wakil presiden Indonesia tahun
2019. Kelompok tersebut membentuk gerakan terhadap pihak yang didukung.
Terdapat dua gerakan yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial
hingga merambah ke dunia nyata. Gerakan tersebut yaitu Gerakan
#2019GantiPresiden dan Gerakan
#DiaSibukKerja . Gerakan #2019GantiPresiden secara tidak langsung
mengungkapkan ingin adanya pergantian presiden untuk periode 2019-2024
mendatang. Begitu sebaliknya Gerakan
#DiaSibukKerja mengkomunikasikan bahwa presiden saat ini yaitu Jokowi
sedang sibuk melakukan program-program kerjanya.
Sebelumnya
diberitakan, ada video viral yang memperlihatkan warga berkaus
#2019GantiPresiden dan relawan Joko Widodo yang memakai kaus #DiaSibukKerja di
CFD. Salah satu kelompok kemudian terlihat mengacungkan uang ke kelompok lain.
Uang juga diacungkan ke seorang ibu yang membawa anaknya yang masih bocah. Para peserta gerakan
#2019GantiPresiden tidak jarang mengeluarkan celetukan 'kecebong lagi bikin
acara' kepada kerumunan peserta #DiaSibukKerja yang menggelar acara utamanya
dengan melakukan senam pagi. Bukan
cuma ramai saat kegiatan CFD, tagh #DiaSibukKerja dan #2019GantiPresiden juga bergaung di sosial Media, banyak netizen
yang mempergunakan tagh tersebut saat berkicau.
Puskomin Kemendagri mencatat
201 kasus konflik terjadi di Indonesia, 30% diantaranya merupakan bentrokan
antar masa pendukung calon kepala daerah. Kemudian Indo barometer melakukan
survey terhadap dua gerakan ini. Direktur Eksekutif Indo
Barometer M Qodari mengatakan, respons
publik terhadap Gerakan 2019 Ganti Presiden, yakni setuju (34,1%), dan yang tidak
setuju (61,1%), tidak tahu/tidak menjawab (4,7%). Survei Indo barometer ini digelar
di 34 provinsi pada 15-22 April 2018. Jumlah sampel pada survei ini sebanyak
12.000 responden.
Memang tidak dapat dipungkiri, persaingan
dalam dunia politik bisa dibilang kejam, berbagai cara dilakukan demi
mendapatkan kursi kekuasaan yang diinginkan. Tak banyak yang melakukan
kerusuhan yang dilakukan oleh pendukung dari suatu pihak. Mulai dari tindakan
penyebaran berita hoax, komentar negatif
di media sosial hingga tindakan secara fisik pun dilakukan.
Dalam
prinsip demokrasi, tentunya setiap orang pada dasarnya memiliki kebebasan dan
hak untuk memilih calon presiden. Kebebasan itu harusnya tanpa boleh
diintervensi oleh hasutan, provokasi dan penyebaran konten negatif (black
campaign) untuk menjatuhkan salah satu calon. Masyarakat Indonesia seharusnya
menonjolkan sifatnya sebagai masyarakat Indonesia yang menerima perbedaan
pendapat. Dengan adanya dua tagar ini,
masyarakat Indonesia bisa berinisiatif untuk melakukan berkegiatan bersama
kepada kedua belah pihak pemilik tagar-tagar politik ini. Kegiatan bersama
tersebut bisa dilakukan seperti kegiatan kerja bakti bersama atau aksi-aksi
bakti sosial bersama. Dengan mengenakan kaos masing-masing tagar, mereka bisa
mengkesampingkan adu politik terlebih dahulu.
Hal
ini tentunya masyarakat tak mudah dipecah belah oleh oknum tertentu yang
menginginkan adanya pecah belah di antara mereka. Karena banyak oknum tertentu
yang melakukan cara agar masyarakat Indonesia terpecah belah. Hal tersebut bisa
saja dimulai dari hal kecil seperti gerakan pendukung ini.
Suara
rakyat menjadi sangat berharga dalam kompetisi pemilihan langsung, karena
pemegang kekuasaan tertinggi adalah rakyat.
Negara sebagai negara demokrasi, masyarakat Indonesia tentunya telah
memahami bagaimana prinsip-prinsip demokrasi serta dalam menyampaikan aspirasi
demokrasinya melalui tagar-tagar seperti #DiaSibukKerja dan #2019GantiPresiden dengan mengedepankan
kedamaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar