Jumat, 20 April 2018

Mendambakan Pilpres Damai 2019


Pemilihan presiden 2019 masih cukup lama, akan tetapi hingar pilpres gaungnya sudah cukup kencang didengar. Hal ini terlihat dari munculnya kelompok pendukung bakal calon presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2019. Kelompok tersebut membentuk gerakan terhadap pihak yang didukung. Terdapat dua gerakan yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial hingga merambah ke dunia nyata. Gerakan tersebut yaitu Gerakan #2019GantiPresiden dan Gerakan  #DiaSibukKerja . Gerakan #2019GantiPresiden secara tidak langsung mengungkapkan ingin adanya pergantian presiden untuk periode 2019-2024 mendatang. Begitu sebaliknya Gerakan  #DiaSibukKerja mengkomunikasikan bahwa presiden saat ini yaitu Jokowi sedang sibuk melakukan program-program kerjanya.

Sebelumnya diberitakan, ada video viral yang memperlihatkan warga berkaus #2019GantiPresiden dan relawan Joko Widodo yang memakai kaus #DiaSibukKerja di CFD. Salah satu kelompok kemudian terlihat mengacungkan uang ke kelompok lain. Uang juga diacungkan ke seorang ibu yang membawa anaknya yang masih bocah. Para peserta gerakan #2019GantiPresiden tidak jarang mengeluarkan celetukan 'kecebong lagi bikin acara' kepada kerumunan peserta #DiaSibukKerja yang menggelar acara utamanya dengan melakukan senam pagi. Bukan cuma ramai saat kegiatan CFD, tagh #DiaSibukKerja dan  #2019GantiPresiden  juga bergaung di sosial Media, banyak netizen yang mempergunakan tagh tersebut saat berkicau.

Puskomin Kemendagri mencatat 201 kasus konflik terjadi di Indonesia, 30% diantaranya merupakan bentrokan antar masa pendukung calon kepala daerah. Kemudian Indo barometer melakukan survey terhadap dua gerakan ini. Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, respons publik terhadap Gerakan 2019 Ganti Presiden, yakni setuju (34,1%), dan yang tidak setuju (61,1%), tidak tahu/tidak menjawab (4,7%). Survei Indo barometer ini digelar di 34 provinsi pada 15-22 April 2018. Jumlah sampel pada survei ini sebanyak 12.000 responden.

Memang tidak dapat dipungkiri, persaingan dalam dunia politik bisa dibilang kejam, berbagai cara dilakukan demi mendapatkan kursi kekuasaan yang diinginkan. Tak banyak yang melakukan kerusuhan yang dilakukan oleh pendukung dari suatu pihak. Mulai dari tindakan penyebaran berita hoax, komentar negatif  di media sosial hingga tindakan secara fisik pun dilakukan.

Dalam prinsip demokrasi, tentunya setiap orang pada dasarnya memiliki kebebasan dan hak untuk memilih calon presiden. Kebebasan itu harusnya tanpa boleh diintervensi oleh hasutan, provokasi dan penyebaran konten negatif (black campaign) untuk menjatuhkan salah satu calon. Masyarakat Indonesia seharusnya menonjolkan sifatnya sebagai masyarakat Indonesia yang menerima perbedaan pendapat.  Dengan adanya dua tagar ini, masyarakat Indonesia bisa berinisiatif untuk melakukan berkegiatan bersama kepada kedua belah pihak pemilik tagar-tagar politik ini. Kegiatan bersama tersebut bisa dilakukan seperti kegiatan kerja bakti bersama atau aksi-aksi bakti sosial bersama. Dengan mengenakan kaos masing-masing tagar, mereka bisa mengkesampingkan adu politik terlebih dahulu.

Hal ini tentunya masyarakat tak mudah dipecah belah oleh oknum tertentu yang menginginkan adanya pecah belah di antara mereka. Karena banyak oknum tertentu yang melakukan cara agar masyarakat Indonesia terpecah belah. Hal tersebut bisa saja dimulai dari hal kecil seperti gerakan pendukung ini.

Suara rakyat menjadi sangat berharga dalam kompetisi pemilihan langsung, karena pemegang kekuasaan tertinggi adalah rakyat.  Negara sebagai negara demokrasi, masyarakat Indonesia tentunya telah memahami bagaimana prinsip-prinsip demokrasi serta dalam menyampaikan aspirasi demokrasinya melalui tagar-tagar seperti #DiaSibukKerja dan  #2019GantiPresiden dengan mengedepankan kedamaian.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar