Berita Investigasi
Mahasiswi simpanan “Om
Om” di Semarang
Sebagai seorang mahasiswa memang dituntut untuk
menjadi seorang pribadi yang mandiri yaitu harus bisa mengatur diri sendiri
dalam hal apapun. Biaya pendidikan dan
kebutuhan yang semakin lam meningkat, membuat para orangtua maupun mahasiswa
harus memutar otak untuk menghemat uang dan mencukupi kebutuhan. Terlebih lagi
jika seorang mahsiswi yang dikenal memiliki kebutuhan banya seperti kebutuhan
make up, skincare, baju, dan lainnya.
Keterbatasan keuangan terkadang membuat mahasiswi
menghalalkan segala cara agar kebutuhannya tercukupi. Beberapa mahasiswi di
Semarang diketahui kerap mencari "om-om senang" secara online,
berharap para om-om ini mau membiayai biaya kuliah mereka.
Seorang mahasiswi dari universitas yang cukup
terkenal di Semarang berinisial DR mengaku memiliki hubungan dengan seorang “Om
Om” yang merupakan seorang pengusaha dan
telah memiliki istri dan 3 orang anak.
Wanita
berkulit bersih dengan postur tinggi langsing itu mengaku sudah delapan bulan
menjalin hubungan dengan pengusaha tersebut. Dan ia juga telah mengetahui bahwa
si “om om” tersebut telah memiliki istri dan anak. Namun, DR mengatakan bahwa hubungannya dengan
si “om om” belum pernah tercium oleh istrinya atau bahkan bertemu dengan DR.
Dan
jika sang istri mengetahui hubungan mereka, DR mengatakan untuk menyerahkannya
kepada si “om om” agar dijelaskan. Karena yg ingin memulai hubungan itu adalah
dia . Dan dari awal DR sudah mengatakan jika hubungan mereka diketahui oleh
sang istri ,maka si “om om” yang akan bertanggung jawab dan melindungi DR jika
terjadi apa apa.
DR
menilai, om-om hidung belang itu mencari ayam kampus karena tergiur daun muda,
baik enak dipandang serta sifatnya yang centil dan manja. Sedangkan dengan
istrinya di rumah mereka tidak mendapatkan hal itu, sehingga mencari di luar.
DR
mengatakan bahwa awal kuliah ia merupakan mahasiswi yang tidak pernah keluar
larut malam dan selalu mengenakan pakaian tertutup, berbeda dengan keadaan nya
sekarang, ia mengaku sering keluar sampai larut malam dan mengenakan pakaian
terbuka. Perubahan tersebut diakui DR
sejak bergaul dengan sejumlah temannya yang kerap berpenampilan seksi dengan
gaya hidup mewah dan sering keluar larut malam. Ia ikut berpakaian seksi dan
bergaul dengan wanita-wanita yang kerap kelayapan saat malam hari. “Berawal
dari situ, saya berkenalan dengan salah satu lelaki yang usianya jauh di atas
saya,” ujar DR.
Hubungan
mereka pun semakin dekat. Sering jalan berdua, makan, dan berbelanja. Bahkan,
sejak dekat dengan pengusaha ini, DR dibelikan ponsel baru, baju-baju model
terbaru, dan tempat kosnya pindah ke tempat yang lebih mewah. “Sampai hubungan
kami lebih dari sekadar berteman,” tuturnya.
DR
juga mengatakan juga sering keluar kota berdua dan menginap di hotel mewah.
Setiap bulannya DR diberi uang bulanan Rp1.000.000. Namun Dr mengatakan, jumlah
uang yang diberikan si ‘om om’ tersebut juga tidak menentu. Terkadang ia
memberikan kurang dari 1 juta, terkadang lebih. DR memaparkan, biasanya
pertemuan itu dilakukan pada hari kerja, sedangkan saat weekend merupakan waktu
dia untuk keluarga.
Selama
menjadi simpanan, gaya hidup DR berubah total, semakin gaul dan mewah. Termasuk
untuk biaya hidup dan kuliah, sama sekali sudah tidak pernah menjadi beban
dalam kesehariannya.
DR
mengakui juga ada teman-temannya di Semarang yang sepertinya yaitu berprofesi
sama ataupun ayam kampus, bahkan mereka bilang ada semacam perlombaan dalam mendapatkan
dan menggaet ‘om om’ yang ada.
Persaingan dilakukan baik dalam cara ucapan, rayuan, bahkan via telepon dan
lainnya.
Jadi
dalam hal ini, mahasiswi yang ingin mendapatkan ‘om om’ yang sesuai dengan
kriteria mereka yang tentunya memiliki harta berlimpah. Mereka yang ingin
mendapatkan om yang diinginkan harus pintar-pintar memberikan rayuan, ucapan
baik melalui telfon atau bertemu secara langsung.
Fenomena
dan peningkatan trend mahasiswi seperti ini
menjadi wanita simpanan baik pejabat maupun pengusaha, tidak lepas dari
alasan umum mereka, yaitu “Uang Mudah” dan gaya hidup mewah.
Jangankan
mendapatkan profesi bergaji besar, mencari pekerjaan yang bergaji normal saja
sudah sulit minta ampun, karenanya mereka terjebak dalam trend penyimpangan
psikologi dimana menginginkan segala sesuatu dengan cara instant tanpa repot
dan bersusah-payah. Sebut saja misalnya mereka tidak hanya mendapat uang
bulanan tanpa bekerja, bahkan salah satunya menyebutkan juga mendapatkan jatah
uang jajan
Rabu (03/04) sekiranya pukul 20.30 saya diajak oleh
DR untuk makan bersama si “Om Om” itu. Kita makan di salah satu restoran mewah
di semarang. Setelah makan kita melanjutkan perjalanan ke salah satu Mall di
Semarang. Saat di mall, memang terlihat bahwa si “om om” memberikan apa yang
diinginkan oleh DR. Perlakuan si “om om” juga sangat memanjakan DR sudah
seperti suami istri. Saya juga melihat hubungan mereka sudah sangat dekat.
Namun dengan perbedaan usia yang cukup jauah antara DR dan si “om om” jika
dilihat oleh orang lain akan terkesan perlakuan bapak ke anaknya.
Keesokan harinya, saya dan DR berbincang-bincang
seputar hubungannya si “om om” yang dikenal sebagai pengusaha tersebut.DR
pernah berfikiran untuk mendapatkan uang dengan cara lain, namun keuntungan
material yang telah ia dapatkan dalam menjalin hubungan dengan si ‘om om’ telah
membuatnya terpana. Karena dalam mindset nya mengatakan bahwa mendapatkan uang
secara instant saja telah menguntungkan, ngapain kita haru susah payah nyari
kerja. Terkadang DR merasakan sesuatu yang lain dengan perbuatan yang selama
ini ia lakukan Ia mengaku pernah
menyesali apa yang telah dilakukanya selama ini. “Saya semakin sadar, ternyata
kebahagiaan tidak sepenuhnya atas uang dan kemewahan yang ada. Jujur, saya ingin
menyudahi semua ini,” katanya. Namun, ia juga mengaku bingung menentukan
bagaimana cara untuk mengakhiri semuanya dalam kondisinya yang juga masih butuh
biaya besar untuk hidup sehari-hari dan membiayai kuliah.
Menjadi
simpanan tentu bukan bagian dari cita-cita DR, mahasiswi di Kota Semarang. Ia
pun segan dan malu jika lingkungan di kampus, atau bahkan keluarga mengetahui
dunia hitam yang digelutinya.
DR
takut jika orang tuanya mengetahui perbuatannya selama ia kuliah seperti itu.
Meskipun perbuatan yang dilakukan DR memang salah, namun ia tetap menjaga heti
orang tuanya dan berharap bahwa tidak ada yang melaporkan perbuatannya
tersebut.
Jika
diteruskan generasi pelajar yang seperti ini, nantinya tidak akaan ada
generaasi penerus bangsa yang bermoral. Maka dari itu kita bisa mencegah trend
menjadi simpanan ini dengan cara:
1.
Menjadi tugas bersama kita, untuk selalu menjaga fungsi keluarga.
2.
Menanamkan mental yang tepat sejak anak-anak, bahwa hidup di dunia tidaklah
instant, semua membutuhkan kerja keras dan usaha. Salah satunya dengan tidak
selalu memberikan langsung apa yang anak minta, bila anak selalu dituruti maka
akan terbawa sampai dewasa untuk selalu langsung mendapatkan apa yang di
inginkan dengan cepat, hasilnya berbahaya, ketika beranjak dewasa dan kenyataan
hidup adalah ternyata sulit walau hanya mencari sesuap nasi … maka dapat
tercetus menghalalkan segala cara.
3.
Mengajarkan suka menabung sejak kecil, akan menumbuhkan sifat mandiri dan tidak
tergantung pada orang lain dalam menginginkan barang atau sesuatu. Menanamkan
kesadaran bahwa semua membutuhkan proses.
4.
Menanamkan moral dan agama kepada putra dan putri sejak dini.
Agar
sang putra bila besar bisa menjadi pejabat yang baik, dan para putri kalau
besar bisa menjadi pelajar yang baik pula.
Semua
harus ditanamkan sejak kecil, sebelum mereka menjadi remaja dan terkontaminasi
lebih dulu oleh segala pengaruh buruk kehidupan.
Sekali
kita terlambat, maka segala nasehat mudah terpental.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar