Minggu, 29 April 2018


Berita Investigasi
Mahasiswi simpanan “Om Om” di Semarang

Sebagai seorang mahasiswa memang dituntut untuk menjadi seorang pribadi yang mandiri yaitu harus bisa mengatur diri sendiri dalam hal apapun.  Biaya pendidikan dan kebutuhan yang semakin lam meningkat, membuat para orangtua maupun mahasiswa harus memutar otak untuk menghemat uang dan mencukupi kebutuhan. Terlebih lagi jika seorang mahsiswi yang dikenal memiliki kebutuhan banya seperti kebutuhan make up, skincare, baju, dan lainnya.
Keterbatasan keuangan terkadang membuat mahasiswi menghalalkan segala cara agar kebutuhannya tercukupi. Beberapa mahasiswi di Semarang diketahui kerap mencari "om-om senang" secara online, berharap para om-om ini mau membiayai biaya kuliah mereka.
Seorang mahasiswi dari universitas yang cukup terkenal di Semarang berinisial DR mengaku memiliki hubungan dengan seorang “Om Om”  yang merupakan seorang pengusaha dan telah memiliki istri dan 3 orang anak.
Wanita berkulit bersih dengan postur tinggi langsing itu mengaku sudah delapan bulan menjalin hubungan dengan pengusaha tersebut. Dan ia juga telah mengetahui bahwa si “om om” tersebut telah memiliki istri dan anak.  Namun, DR mengatakan bahwa hubungannya dengan si “om om” belum pernah tercium oleh istrinya atau bahkan bertemu dengan DR.
Dan jika sang istri mengetahui hubungan mereka, DR mengatakan untuk menyerahkannya kepada si “om om” agar dijelaskan. Karena yg ingin memulai hubungan itu adalah dia . Dan dari awal DR sudah mengatakan jika hubungan mereka diketahui oleh sang istri ,maka si “om om” yang akan bertanggung jawab dan melindungi DR jika terjadi apa apa.
DR menilai, om-om hidung belang itu mencari ayam kampus karena tergiur daun muda, baik enak dipandang serta sifatnya yang centil dan manja. Sedangkan dengan istrinya di rumah mereka tidak mendapatkan hal itu, sehingga mencari di luar.
DR mengatakan bahwa awal kuliah ia merupakan mahasiswi yang tidak pernah keluar larut malam dan selalu mengenakan pakaian tertutup, berbeda dengan keadaan nya sekarang, ia mengaku sering keluar sampai larut malam dan mengenakan pakaian terbuka.  Perubahan tersebut diakui DR sejak bergaul dengan sejumlah temannya yang kerap berpenampilan seksi dengan gaya hidup mewah dan sering keluar larut malam. Ia ikut berpakaian seksi dan bergaul dengan wanita-wanita yang kerap kelayapan saat malam hari. “Berawal dari situ, saya berkenalan dengan salah satu lelaki yang usianya jauh di atas saya,” ujar DR.
Hubungan mereka pun semakin dekat. Sering jalan berdua, makan, dan berbelanja. Bahkan, sejak dekat dengan pengusaha ini, DR dibelikan ponsel baru, baju-baju model terbaru, dan tempat kosnya pindah ke tempat yang lebih mewah. “Sampai hubungan kami lebih dari sekadar berteman,” tuturnya.
DR juga mengatakan juga sering keluar kota berdua dan menginap di hotel mewah. Setiap bulannya DR diberi uang bulanan Rp1.000.000. Namun Dr mengatakan, jumlah uang yang diberikan si ‘om om’ tersebut juga tidak menentu. Terkadang ia memberikan kurang dari 1 juta, terkadang lebih. DR memaparkan, biasanya pertemuan itu dilakukan pada hari kerja, sedangkan saat weekend merupakan waktu dia untuk keluarga.
Selama menjadi simpanan, gaya hidup DR berubah total, semakin gaul dan mewah. Termasuk untuk biaya hidup dan kuliah, sama sekali sudah tidak pernah menjadi beban dalam kesehariannya.
DR mengakui juga ada teman-temannya di Semarang yang sepertinya yaitu berprofesi sama ataupun ayam kampus, bahkan mereka bilang ada semacam perlombaan dalam mendapatkan dan menggaet ‘om om’  yang ada. Persaingan dilakukan baik dalam cara ucapan, rayuan, bahkan via telepon dan lainnya.
Jadi dalam hal ini, mahasiswi yang ingin mendapatkan ‘om om’ yang sesuai dengan kriteria mereka yang tentunya memiliki harta berlimpah. Mereka yang ingin mendapatkan om yang diinginkan harus pintar-pintar memberikan rayuan, ucapan baik melalui telfon atau bertemu secara langsung.
Fenomena dan peningkatan trend mahasiswi seperti ini  menjadi wanita simpanan baik pejabat maupun pengusaha, tidak lepas dari alasan umum mereka, yaitu “Uang Mudah” dan gaya hidup mewah.
Jangankan mendapatkan profesi bergaji besar, mencari pekerjaan yang bergaji normal saja sudah sulit minta ampun, karenanya mereka terjebak dalam trend penyimpangan psikologi dimana menginginkan segala sesuatu dengan cara instant tanpa repot dan bersusah-payah. Sebut saja misalnya mereka tidak hanya mendapat uang bulanan tanpa bekerja, bahkan salah satunya menyebutkan juga mendapatkan jatah uang jajan
Rabu (03/04) sekiranya pukul 20.30 saya diajak oleh DR untuk makan bersama si “Om Om” itu. Kita makan di salah satu restoran mewah di semarang. Setelah makan kita melanjutkan perjalanan ke salah satu Mall di Semarang. Saat di mall, memang terlihat bahwa si “om om” memberikan apa yang diinginkan oleh DR. Perlakuan si “om om” juga sangat memanjakan DR sudah seperti suami istri. Saya juga melihat hubungan mereka sudah sangat dekat. Namun dengan perbedaan usia yang cukup jauah antara DR dan si “om om” jika dilihat oleh orang lain akan terkesan perlakuan bapak ke anaknya.
Keesokan harinya, saya dan DR berbincang-bincang seputar hubungannya si “om om” yang dikenal sebagai pengusaha tersebut.DR pernah berfikiran untuk mendapatkan uang dengan cara lain, namun keuntungan material yang telah ia dapatkan dalam menjalin hubungan dengan si ‘om om’ telah membuatnya terpana. Karena dalam mindset nya mengatakan bahwa mendapatkan uang secara instant saja telah menguntungkan, ngapain kita haru susah payah nyari kerja. Terkadang DR merasakan sesuatu yang lain dengan perbuatan yang selama ini ia lakukan  Ia mengaku pernah menyesali apa yang telah dilakukanya selama ini. “Saya semakin sadar, ternyata kebahagiaan tidak sepenuhnya atas uang dan kemewahan yang ada. Jujur, saya ingin menyudahi semua ini,” katanya. Namun, ia juga mengaku bingung menentukan bagaimana cara untuk mengakhiri semuanya dalam kondisinya yang juga masih butuh biaya besar untuk hidup sehari-hari dan membiayai kuliah.
Menjadi simpanan tentu bukan bagian dari cita-cita DR, mahasiswi di Kota Semarang. Ia pun segan dan malu jika lingkungan di kampus, atau bahkan keluarga mengetahui dunia hitam yang digelutinya.
DR takut jika orang tuanya mengetahui perbuatannya selama ia kuliah seperti itu. Meskipun perbuatan yang dilakukan DR memang salah, namun ia tetap menjaga heti orang tuanya dan berharap bahwa tidak ada yang melaporkan perbuatannya tersebut.
Jika diteruskan generasi pelajar yang seperti ini, nantinya tidak akaan ada generaasi penerus bangsa yang bermoral. Maka dari itu kita bisa mencegah trend menjadi simpanan ini dengan cara:
1. Menjadi tugas bersama kita, untuk selalu menjaga fungsi keluarga.
2. Menanamkan mental yang tepat sejak anak-anak, bahwa hidup di dunia tidaklah instant, semua membutuhkan kerja keras dan usaha. Salah satunya dengan tidak selalu memberikan langsung apa yang anak minta, bila anak selalu dituruti maka akan terbawa sampai dewasa untuk selalu langsung mendapatkan apa yang di inginkan dengan cepat, hasilnya berbahaya, ketika beranjak dewasa dan kenyataan hidup adalah ternyata sulit  walau hanya mencari sesuap nasi … maka dapat tercetus menghalalkan segala cara.
3. Mengajarkan suka menabung sejak kecil, akan menumbuhkan sifat mandiri dan tidak tergantung pada orang lain dalam menginginkan barang atau sesuatu. Menanamkan kesadaran bahwa semua membutuhkan proses.
4. Menanamkan moral dan agama kepada putra dan putri sejak dini.
 Agar sang putra bila besar bisa menjadi pejabat yang baik, dan para putri kalau besar bisa menjadi pelajar yang baik pula.
Semua harus ditanamkan sejak kecil, sebelum mereka menjadi remaja dan terkontaminasi lebih dulu oleh segala pengaruh buruk kehidupan.
Sekali kita terlambat, maka segala nasehat mudah terpental.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar